Merantau! Pilihan, untuk tetap menuntut ilmu
Suatu ketika, seorang anak sangat merindukan berkumpul dengan orang tuanya. Setelah setiap hari bergelut dengan kesibukan di perantauannya. Tak terkira setiap saat hatinya didera rasa pilu untuk segera pulang ke rumahnya. Meski tak pernah lebih dari sebulan ia berdiam diri di sana.
Lebih dari delapan tahun lamanya, ia seorang anak manusia rela tinggal terpisah jauh dari orang tua. Melalui hari-hari bersama orang-orang baik yang baru dikenalnya. 'Hanya' dengan satu alasan, meski saat itu belum benar-benar disadarinya, menuntut ilmu.
Beranjak dari jenjang terendah, saat ia masih duduk di bangku SMP, hingga kini ketika tiba di tahun keempat studinya di perguruan tinggi, tak juga ia yakin benar-tentang ilmunya.
Perubahan suasana dari satu tempat ke tempat yang baru, terasa memberi suntikan semangat baru baginya. Namun entah alasan apa, hampir di titik akhir studinya ia belum juga sadar, adakah yang diperoleh selama perantauan. Sesuatu telah menyumbat aliran informasi bawah sadarnya, sehingga selama itu tak juga kontribusi nyata yang ditunjukkannya.
Bahkan, terkadang dirasakan, orang-orang baik di sekelilingnya tak lagi sama. Pupus sedikit demi sedikit asa di wajah mereka. Yang ada, kesal tak terkira untuk kesekian kali, atas ketergantungannya.
Mungkin, memang ia telah melewatkan banyak hal penting. Hal-hal yang harus diupayakannya. Hal-hal yang membayangi dalam benak dan bebannya namun tak sadar menjadi kabut tebal di mata hatinya.
Hidup adalah ketetapan, namun menjalani kehidupan adalah sebuah pilihan. Menjalani kehidupan dengan menuntut ilmu dengan segala konsekuensi di dalamnya pun menjadi salah satu pilihan yang mesti dijalani.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home